Rezim Jokowi, Merajalelanya Korupsi dan Butanya Mata Novel Baswedan

Rezim Jokowi, Merajalelanya Korupsi dan Butanya Mata Novel Baswedan
Rezim Jokowi, Merajalelanya Korupsi dan Butanya Mata Novel Baswedan

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle) 

NENENG, Bupati Bekasi menyatakan menteri dalam negeri Jokowi, Tjahyo Kumolo, telah memintanya untuk memuluskan projek Meikarta, yang saat ini menjadi skandal korupsi korporasi yang jadi incaran besar besar Komite Anti Korupsi (KPK).

Luhut Binsar Panjaitan, menteri paling berkuasa di masa Jokowi yang baru meresmikan gedung tower mewah miliknya di Kuningan,ternyata juga melindungi projek Meikarta, dengan kehadirannya dalam "topping off" projek yang meniru properti dukungan Republik Rakyat Cina di Johor (Djohor Bay) Malaysia.

Hal di atas menunjukkan bahwa rezim Jokowi memang benar2 terlibat dalam melindungi bisnis properti, yang saat ini sudah lebih satu tahun (menurut Tata, humas KPK kepada saya/KAKI) diinvestigasi sebagai kejahatan korporasi.

Perlindungan atas projek Meikarta memperkuat pernyataan Ahok di masa lalu, yang bisa dilacak dari jejak digital, bahwa "Jokowi tidak mungkin jadi Presiden jika tidak didukung Taipan properti".

Itu juga menjelaskan kenapa semasa Jokowi berkuasa, reklamasi di Jakarta berjalan terkesan melanggar hukum dan UU. Yang akhirnya saat ini dihentikan Anies Baswedan.

Kesulitan Indonesia melawan korupsi di masa Jokowi saat ini semakin nyata dengan kesadisan dan pelanggaran HAM yang dilakukan kekuatan anti korupsi yang semakin merajalela. Di masa Jokowi berkuasa, tokoh utama pemberantas korupsi, Novel Baswesan, matanya disiram air keras. Sehingga menimbulkan efek takut aparat anti korupsi terhadap upaya2 pemberantas korupsi.

Kehilangan mata kiri Novel Baswedan, yang saat ini menjadi buta, semakin mencekam karena setelah bertahun2, Jokowi gagal mengungkap pelakunya. Belum lagi rakyat habis bersedih atas kasus Novel, kekuatan anti korupsi semakin ganas dengan membom rumah pimpinan KPK baru2 ini. Bom molotov dilemparkan kerumah Agus Raharjo dan La Ode Syarif.

Rakyat sendiri disuasanai kebencian mendalam terhadap merajalelanya korupsi di masa Jokowi ini. Pada saat Bupati Cianjur pendukung Jokowi ditangkap KPK, rakyat ribuan orang berpesta pora seharian merayakan kemenangan. Dari peristiwa itu, kehausan rakyat sudah tidak dapat dibendung lagi. Rakyat sudah dendam atas situasi korupsi yang terus merajalela.

Wakil Presiden Jokowi Jusuf Kalla juga sudah memberi indikasi bahwa projek infrastruktur sarat dengan korupsi. Indiskasi ini terlihat dari mahalnya harga pembangunan LRT yang disinyalir JK minggu lalu, rp 500 Milyar/km.

Korupsi di era ini sudah semakin merajalela. Dr. Eric Breit (Akershus University, Norway) dan Thomas Taro Lamufors (Uppsale University, Sweden)  dalam tulisannya "Critiquing Corruption: A Turn Theory" menjelaskan bahwa korupsi itu berkembang bersama masyarakatnya, bukan terpisah (corruption cannot be understood as separate from society). "Corruption theory is creatures of Society".

Mengutip Eduard Pignot yang diinspirasi psychoanalitical theory (the Essex Lacanian literature), Breit dab Thomas menunjukkan kesenangan orang terhadap korupsi sebagai sebuah faktor penting. Ini sebuah bahaya besar ketika korupsi sudah menjadi candu. Seperti yang saat ini terjadi di kita.

Apakah kita terlambat dalam memberantas korupsi yang merajalela? Pertanyaan ini tergantung pada kita yang waras. Yang jelas lembaga anti korupsi dunia, Transparency International, dalam websitenya memuat kesedihan mendalam atas bom terhadap dua rumah pimpinan KPK saat ini. Plus hilangnya mata Novel Baswedan. [rmol]
Advertisement

Baca Juga :