Rommy, Mimpi Kyai Hingga Lobi Jokowi Pinang Ma'ruf Amin

Rommy, Mimpi Kyai Hingga Lobi Jokowi Pinang Ma'ruf Amin
Rommy, Mimpi Kyai Hingga Lobi Jokowi Pinang Ma'ruf Amin
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan menangkap Muhammad Romahurmuziy atau yang akrab disapa Romi, dalam operasi tangkap tangan (OTT) Jumat (15/3). Sumber CNNIndonesia.com di lembaga penegak hukum mengonfirmasi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu ditangkap di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, di Sidoarjo pukul 09.30 WIB.

Romi dideklarasikan sebagai Ketua Umum PPP sejak 2014 melalui Muktamar PPP di Surabaya. Muktamar itu pun kemudian menjadi awal mula munculnya dualisme di tubuh partai berlambang kakbah tersebut.

Pria kelahiran 10 September 1974 ini merupakan anak dari pasangan M Tolchah Mansoer dan Umroh Machfudzoh. Romi juga diketahui merupakan cucu dari Menteri Agama ketujuh KH M Wahib Wahab pada 1959-1962.

Ayah Romi seorang Guru Besar Hukum Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sementara ibunya pendiri Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Ketua DPW PPP DIY 1985-1995, serta Ketua Umum PP Wanita Persatuan 1993-1998.

Romi menyelesaikan pendidikan dari bangku SD hingga SMA di Yogyakarta. Dia kemudian melanjutkan pendidikan S1 Jurusan Teknik Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menyelesaikan gelar magisternya di Fakultas Pasca Sarjana, Jurusan Teknik dan Manajemen Industri.

Romi mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren. Namun, kini ia justru dikenal sebagai seorang politikus.

Karier politik Romi bermula ketika ia masuk menjadi anggota Garda Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 1998. Meski begitu, Romi kemudian lebih memilih PPP untuk meniti karier politiknya.

Di lingkungan pemerintahan, Romi tercatat pernah menjadi staf khusus Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali yang juga sebagai ketua umum PPP saat itu. Pada 2009, Romi mencoba peruntungannya maju sebagai calon anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Ia pun kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014.

Tak hanya menjadi anggota, Romi juga sebagi Ketua Komisi IV DPR RI. Ia pun kemudian menduduki jabatan sekretaris jenderal (sekjen) PPP periode 2011-2015. Karier politik Romi semakin moncer, ketika ia kembali terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019.

Di internal partai, Romi diketahui memiliki pilihan yang berbeda dengan Suryadharma Ali. Romi pun memilih untuk menggelar Muktamar PPP di Surabaya yang akhirnya membuat dirinya terpilih sebagai Ketum PPP. Namun, di saat yang sama, Suryadharma Ali juga menggelar Muktamar PPP di Jakarta dan memilih Djan Farid. Mulai saat itu, terjadilah dualisme di PPP.

Masalah dualisme itu sempat dibawa ke jalur hukum. Putusan kemudian diketahui memenangkan kubu Djan Farid atau muktamar PPP versi Jakarta. Tapi, Romi lagi-lagi menggelar muktamar PPP di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta. Hasil dari muktamar tersebut, Romi kembali terpilih menjadi Ketum PPP periode 2016-2021 secara aklamasi.

Jelang pendaftaran Pilpres 2019, Romi dan sejumlah nama lain santer diisukan akan maju menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo. Namun, akhirnya Jokowi memilih Ma'ruf Amin untuk mendampinginya. Romi kini menjadi bagian dari Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf.

LOBI ROMI DAN MA'RUF AMIN

Romi dalam satu kesempatan memang mengaku menjadi orang yang menyodorkan nama Ma'ruf Amin kepada Jokowi. Hal itu diakuinya terjadi pada 3 Desember 2017. Saat itu, ia menginginkan agar Rais Aam PBNU dapat masuk kandidat cawapres Jokowi.

"Jujur saya menyebut Ma'ruf Amin di urutan pertama," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Sebulan setelah menyodorkan Ma'ruf, Romi mengaku sengaja mengunjungi kediaman Ketua Umum MUI itu untuk bersilaturahmi. Saat itu, Romi menyampaikan laporan bahwa dirinya telah menyodorkan nama Ma'ruf sebagai bakal cawapres Jokowi dari PPP.

Romi mengaku bersalah dan ditegur oleh Ma'ruf karena tidak berkomunikasi terlebih dahulu sebelum menyodorkan nama Ketua MUI itu ke Jokowi. Maruf menegurnya dan menyatakan tak bersedia karena alasan umur yang sudah menua dan tak muda lagi. Namun demikian, perjalanan politik membuat Ma'ruf Amin kemudian dipastikan mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Seperti diketahui, saat ini perjalanan politik Romi mendapatkan batu sandungan setelah santer kabar beredar dirinya ditangkap dalam satu operasi tangkap tangan KPK di Surabaya.

Ketua KPK Agus Rahardjo membenarkan soal operasi senyap tersebut. Namun dia tak membeberkan identitas para pihak yang ditangkap dalam OTT dimaksud. Dia hanya meminta semua pihak bersabar dan menunggu keterangan resmi dari KPK.
Advertisement

Baca Juga :