Kisah Eks Swing Voters: Akhirnya Memilih jadi ‘Kampret’

Kisah Eks Swing Voters: Akhirnya Memilih jadi ‘Kampret’
Kisah Eks Swing Voters: Akhirnya Memilih jadi ‘Kampret’

Tepat di Rabu depan, kita bakal melakukan Hari Raya Pemilu yang diadain serentak untuk pertama kali.

Rabu depan adalah pemilu kedua yang gue ikuti setelah resmi menjadi warga negara yang dewasa, dan di Rabu depan pula, gue bakal memasuki paruh hidup yang baru di usia ke-25.

Iya, ulang tahun gue di 2019 ini bakal jatuh bersamaan dengan hari pencoblosan.

Gue nggak ngerti lagi betapa sayangnya Republik Indonesia sama diri gue sampe-sampe ulang tahun ke-25 gue ini bakal dirayakan sama satu negara.

Sebelum cerita lebih jauh, gue mau flashback sedikit ke pemilu pertama gue di 2014, salah satu pemilu yang mungkin paling panas dalam sejarah.

Saat itu, gue masih menjadi mahasiswa tingkat tiga, rajin nge-blog, dan masih kencur-kencurnya ngikutin politik. Namanya juga latah, setelah gagal mendukung Mas Anies Baswedan di Konvensi Capres Partai Demokrat karena nggak jadi dicalonin, gue tergerak untuk membuat tulisan berjudul: Bukan Tulisan Selebtwit, Jangan Diambil Pusing untuk meluapkan uneg-uneg dan antusiasme gue buat mengikuti pilpres yang pertama kalinya. Tulisan lima tahun lalu yang isinya naif banget dalam mendukung Paslon No. 1… pada saat itu. 

Polarisasi Pilpres 2014 kondisinya kek transit di Stasiun Manggarai jam enem sore, caur banget emang. Selain membuat renggang hubungan sama temen, hubungan keluarga besar juga banyak yang panas hanya karena berbeda coblosan presiden. Begitu juga gue sekeluarga yang mudik ke Semarang untuk merayakan lebaran yang jatuh sebulan setelah pilpres. FYI aja, keluarga besar gue terdiri dari 13 keluarga di mana cuma 3 keluarga yang mendukung Prabowo-Hatta dan sisanya mendukung Jokowi-JK (maklum, namanya juga Jawa Tengah). Alhasil bukannya maaf-maafan, pas ngumpul lebaran kami malah nontonin sidang gugatan MK sambil nyinyir pilihan satu sama lain.

Benar-benar unfaedah.

Lima tahun berselang, akhirnya diadain-lah pemilu lagi.

Begitu pendaftaran dibuka, eh… yang ikutan dia-dia lagi.

***

Gue inget banget pas itu, Kamis 9 Agustus 2018. Seharian gue di rumah mantengin TV bersama bokap nungguin siapa yang bakal mendampingi Jokowi dan Prabowo buat pilpres kali ini. Kondisinya, JK kali ini nggak bisa maju lagi karena udah dua kali jadi wapres, sementara di pemberitaan tiap hari rame soal gerakan Ganti Presiden padahal kubu Prabowo masih abu-abu siapa yang bakal diusung oleh mereka.

Semakin sore, bocoran tentang pasangan pertama akhirnya muncul di berita. Mahfud MD bakal digandeng Jokowi buat jadi tandem di pemilu mendatang. Secara subjektif, gue sangat percaya sama Mahfud MD ini adalah tokoh yang jejaknya bersih. Bukan nggak mungkin gue banting stir dari 2014 lantas milih pasangan ini karena faktor Mahfud MD. Begitu Magrib dan dilakukan konpers…. Jeng-jeng.

Tiba-tiba yang dicomot sebagai calon wakil adalah Ma’ruf Amin.

Di pikiran gue saat itu Ingin rasanya gue teriak “NANNNIII????”, sayangnya gue bukan lagi di cerita anime. Buset. Kalo Jokowi wakilnya ulama, terus Prabowo wakilnya juga dipaksa harus ulama, ini pemilu apa mau bikin desain baliho tabligh akbar di perempatan Pancoran?

Gue dan bokap pun menunggu kabar dari kubu satunya lagi sampe-sampe gue membuat uthak-athik gathuk di twitter segala, berharap yang diusung adalah Anies Baswedan (supaya pas kampanye nanti namanya jadi gemes banget: Brownies. Prabowo-Anies).

Setelah mantengin hingga jam 1 malem, nama sang penantang pun rilis. Jeng-jeng…

Yang dipilih ternyata Sandiaga Uno, orang yang sejak 2016 jarinya otomatis membentuk lambang ok-oce tiap disorot sama kamera. Bener-bener antiklimaks.

Gimana nggak heran coba. Keempat tokoh ini memiliki hubungan aneh bin ajaib.

Coba dicerna pelan-pelan. Pusing nggak lu? 

Yang dilabelin sebagai Islam radikal cawapresnya malah pengusaha yang wajahnya milenial, yang dilabelin paling bhinneka malah memilih ulama yang beberapa kali mengeluarkan fatwa kontroversial.

Buset… ini pada nggak ketuker kan ya?

Keheranan gue menghasilkan sikap skeptis terhadap Pemilihan Presiden 2019. Menjadi golput dengan menyobek foto kedua paslon buat dikantongin dan ditempel di binder sebagai suvenir pun menjadi opsi gue paling masuk akal kala itu.

***

Bulan berganti bulan, diskusi di TV semakin sering, blunder dari kedua kubu juga muncul bergantian. Mau menghindar segimanapun, mau nggak mau gue terpapar berita pilpres yang seliweran di mana-mana.

Mari kita bedah, semoga lo betul-betul mau ngeklik link-nya satu per satu.

Lihat? Saling jelek-jelekin, padahal jelek semua.

Bahasa Uzbek-nya, sami mawon malihhhhh!

Debat kandidat pun dimulai. Jokowi ngegas, Prabowo joget, Ma’ruf bilang cukup, Sandi malah kaya penyiar radio yang nyebutin nama-nama orang, asal kota, dan curhatan mereka. Semua debat ujung-ujungnya berakhir menjadi meme. Substansinya? Nggak tertarik. Gue lebih tertarik nontonin pembahasan Pandji di Youtube yang dia sendiri masih bingung soal siapa yang lebih layak buat dipilih. Preferensi sebetulnya udah mulai muncul, tapi setelah gue pikir-pikir, gue masih sangat tidak yakin.

Tapi semua berubah sejak Debat Cawapres sebulan yang lalu.

Di saat petahana kembali jualan kartu (lagi), akhirnya Sandiaga mulai berani nyebutin program-program konkretnya. Yang paling greget ada di sesi terakhir. Tiba-tiba doi nyuruh penonton di lokasi dan di rumah ngeluarin dompet. Gue yang nonton terheran-heran. Busetttt ini mo ngapain? Jangan om aku miskin… 

Tiba-tiba doi dan semua pengikutnya ngeluarin E-KTP, kartu sakti yang bisa mengalahkan semua kartu yang memproduksinya aja bisa ngabisin banyak biaya lagi. Dijelaskan kembali soal tujuan awal kenapa dibuat E-KTP dan mereka mau menerapkan program itu kalo mereka kepilih ketimbang ngeluarin banyak kartu yang otomatis bakal ngabisin banyak ongkos buat mencetak lagi. 

Kampret! Iya juga ya? Kok selama lima tahun ini kagak jalan sih?”

Selepas debat, di mana-mana jadi rame soal E-KTP. Kubu 01 membantah, katanya KTP kita belom secanggih itu dan lain sebagainya. Jawaban paling kampretnya adalah begitu gue nonton Mata Najwa part ini dan ada perdebatan di menit 4.00 yang greget. Kalo males, langsung nonton di menit 6:20!!

Gue kembali teringat sama kasus yang melibatkan koruptor koplak bekas petinggi DPR, politisi yang paling gue benci, yang membuat drama tabrakan ala-ala, kritis sebesar bakpau, jadi napi lalu pura-pura baca qur’an di sel penjara palsu karena nilep duit proyek E-KTP hingga membuat kualitas kartu kita buluk dan plastik laminatingnya mudah ngeletek (dan kebetulan pernah menjadi orang dekat presiden saat ini). Gara-gara debat di TV juga, gue jadi googling ucapan mereka soal E-KTP di negara lain, yang paling deket adalah MyKad di Malaysia di mana KTP, SIM, pajak, dan sebagainya udah terintegrasi dalam satu kartu aja bahkan bisa dijadiin e-money buat naik transportasi umum. Nggak cuma itu, gue malah menemukan video ini dan ternyata masalah beras miskin bisa diakses dengan nempelin KTP dan fingerprint. Masalah perkartu-kartuan inilah yang membuat gue skeptis dengan pasangan yang itu, karena gue nggak nemu hubungannya antara klaim harga yang terjangkau dan lapangan kerja luas, tapi program yang ditawarin sama mereka justru ngeluarin kartu sembako dan kartu prakerja. Lah gimana?

Benar-benar kampret. Oke ucapan mereka masuk akal dan gue kesihir Sandiaga.

Saat itu gue memutuskan untuk bangga menjadi kampret dengan memilih pasangan Prabowo-Sandi. Om Sandi, you’ll get my vote.

***

Hahhh? lu serius? Lu dukung HTI dong? Prabowo kan orang di belakangnya radikkkal hihhh? Lu pengen hilafah dong? Lu radikal?? konconya Habib Riziq dong??? 

Monmaap aja nih ya. Secara jujur, sedari awal gue nggak ngurusin sama gerombolan 212. Mau ngumpulin orang seratus ribu kek, tujuh juta kek, sebelas juta kek. Bahasa Swahili-nya, it’s not my business, karena bukan itu yang mendasari kenapa gue tertarik milih 02. Radikal? Boro-boro. Gue aja hobi solat Asar jam setengah enem biar gampang rapelnya ama Magrib, gimana mau tegakkan khilafah? Apalagi Prabowo berkali-kali ngomong nggak bakal mengganti ideologi negara
Soal man behind the scene, mungkin emang bener beberapa “alumni” yang mengusung khilafah nempelnya di 02. Tapi lu jangan lupa satu hal. Apakah pernah ada ceritanya kalo Prabowo bisa disetir sama orang lain dalam mengambil keputusan besar? Diteken sama Ijtima Ulama supaya ngambil kyai sebagai Wapres aja nggak dia gubris, bahkan dia milihnya Sandi, bekas anak buah partainya sendiri.

***

Tulisan panjang ini adalah tulisan yang mahasubjektif dan gue hanya menumpahkan rasa geregetan gue yang terpendam selama beberapa bulan ke belakang.

Secara mendasar sih, sebetulnya gue udah bodo amat sama kedua calon presiden karena mereka ya gitu-gitu aja. Mereka ada kelebihannya, nggak sedikit pula bagian cacatnya. Kita udah tahu gimana rasanya pemerintahan selama lima tahun ke belakang. Prestasinya banyak tapi manajemennya kacrut, dan penantangnya membawa narasi perubahan. Hanya saja yang menjadi baru di pilpres kali ini adalah pasangannya. Calon wakil presidennya.

Diliat dari yang udah-udah, presiden dan wakil presiden harusnya bisa saling membagi tugas. Misalnya di periode ini, waktu Jokowi harus ke wilayah bencana, JK yang in-charge buat ngurus penutupan Asian Games. Begitu juga waktu Jokowi nggak hadir Sidang Umum PBB karena urusan lain, JK yang berangkat ke Amerika. Nah, dengan logika yang sama, udah jelas kenapa gue lebih memilih Prabowo-Sandi di pemilu nanti. Yang menjadi concern gue adalah kita memilih pasangan, bukan cuma milih satu orang. Mereka harus bisa saling bergantian dan mohon maaf, gue nggak melihat calon satunya bakal seperti JK yang meski udah 70+ tapi masih semangat, lincah, gembira.
Kata media barat sih, pemilu tahun ini gong-nya emang ada di Sandiaga, bukan lagi di Jokowi dengan segala efeknya yang moncer di 2014 lalu. Coba lu buka instagram @sandiuno dan perhatiin kerumunan yang berhasil dia ciptakan setiap kunjungan. Setelah sebelumnya gue meremehkan Prabowo yang milih Sandiaga, gue sekarang justru berpendapat. kampret, bener juga ini strateginya. Bayangin kalo yang dipilih prabowo itu Anies atau malah seorang ustaz. mana mungkin emak-emak bisa nyakar, cubit-cubit pipi, dan perilaku fangirling lainnya? Gimana nggak jadi magnet pemilu coba. Udah kampanyenya selalu tentang lapangan kerja, harga-harga murah, yang ngomong ganteng pula. 
Ditambah lagi, ada segudang sesumbar petahana yang gagal tercapai di lima tahun pemerintahannya. Mulai dari stop impor, jabatan menteri bukan orang partai, jaksa agung netral, beli BUMN kembali, sesumbar dolar di bawah 10.000, menuntaskan kasus HAM masa lalu, ekonomi meroket, faktor sesumbar masa lalu yang belum dipenuhi, kapabilitas paslon 02, dan efek Sandi Uno-lah yang akhirnya membuat gue lebih sreg dan makin yakin buat memilih pasangan nomor 02. 

Begitu sreg dengan pilihan besok, gue sempat mengikuti acara diskusi Prabowo dengan 200 millenials se-Indonesia di bawah @GerakanMilenialIndonesia. Kami diundang ke rumahnya di Hambalang, Bogor. Dikasih duit? Boro-boro shay! Volunterisme anak-anak GMI yang militan ini justru nggak dibayar buat sosialisasiin Prabowo-Sandiaga ke warga-warga. Sayangnya karena jeleknya manajemen waktu, gue belum bisa bergerak aktif di gerakan ini :” 

Pesan yang gue minta Pak Prabowo buat dituliskan di buku harian gue. Hasil mengikuti acara bersama beliau. Terharu :_) 

***

Tulisan panjang ini adalah tulisan yang mahasubjektif dan gue hanya menumpahkan rasa geregetan gue selama beberapa bulan ke belakang. 

Tahun ini kita disuguhi dengan pasangan calon yang nggak sempurna dua-duanya. Persis kayak kita ditanyain mau makan Indomie. Pilihannya cuma dua, mau Indomie rebus atau Indomie goreng. Kita tahu Indomie itu nggak sehat, tapi entah kenapa amat susah bagi orang Indonesia untuk menolak salah satu dari Indomie tersebut. Nggak perlu berantem, karena semuanya sama-sama produknya Indofood. Pun dengan pilpres. Mau milih Indomie goreng, boleh. Mau milih Indomie rebus karena cuacanya lagi dingin, boleh. Nggak perlu ribut atau berantem, karena semuanya sama-sama pengin Indonesia jadi lebih baik dengan caranya masing-masing. 

Ketahuilah bahwa pemilihan presiden itu cuma masalah preferensi. Dalam sistem one-man-one-vote, siapapun boleh memilih salah satu paslon dengan alasan apapun dan sesuai dengan nilai yang kita percaya. Seperti kata Sukarno, mau milih berdasarkan kesamaan agama, boleh. Milih berdasarkan keturunan, boleh. Mau berdasarkan visi dan kesukaan, boleh. Apapun alasannya, semuanya sah. Memilih golput buat mencoblos semuanya pun boleh-boleh aja dan nggak masalah. Nggak usah berlagak sok paling bersih dan paling jujur, nanti giliran ketangkep korupsi perduitan malunya nggak ketulungan. Meski tulisan gue bersifat sangat subjektif, di tulisan ini gue menyertakan puluhan tautan sumber dari media online yang bukan ethok-ethok. Linknya jelas dan bisa dipercaya. Silakan dibuka, dibaca, dan dicerna kalo kamu-kamu bersedia, karena inilah yang gue rasakan selama ini hingga membuat gue lebih nyaman menjadi kampret untuk Adil Makmur terlebih dulu daripada ngakunya maju tapi kondisinya kayak empat setengah tahun belakangan ini.

Pilpres adalah pesta demokrasi. Harusnya meriah, harusnya menggembirakan, harusnya nggak ada permusuhan. Apapun pilihannya, setelah 17 April kita bakal tetap Indonesia. 

Persahabatan nomor satu, kalo presiden?

Oh jelas, gue sih nomor dua. Bong, pret! Selamat memilih! 

*) kampret newcomer yang kepengin Indonesia Adil Makmur (((di bawah Prabowo-Sandi)))

Advertisement

Baca Juga :