Sihir Jokowi Sudah Pudar – Media Rakyat

Sihir Jokowi Sudah Pudar – Media Rakyat
Sihir Jokowi Sudah Pudar – Media Rakyat

Oleh Wongso Dipakiwari

Adegan-adegan Jokowi difoto sendirian, dengan para menteri yang tahu diri untuk mengambil jarak, menjadi keseharian Jokowi sebagai presiden. Pelan-pelan publik menyadari bahwa adegan itu disetting. Puncaknya adalah kala ia difoto sedang berjalan sendirian di Pantai Carita usai pesisir barat Pulau Jawa itu dihantam tsunami. Ia melakukan adegan-adegan yang menjadi tontonan orang-orang, yang orang-orang itu sadar bahwa itu seperti shooting sinetron. 

Jokowi jongkok seolah merenung, Jokowi menuding ke laut seolah di sisinya ada orang lain yang diajak bicara, Jokowi menatap laut. Juru foto dan cameramen pun segera cekrek-cekrek dan rolling. Benar-benar drama yang lebay. Maka segera saja Jokowi dicemooh. Sihir Jokowi mulai lenyap justru melalui jalan yang sama di saat ia menuju puncak kursi gubernur DKI dan presiden. Foto-foto dan rekaman video oleh orang-orang yang menyaksikan adegan itu pun beredar dan viral, menandingi foto-foto Jokowi yang seolah sedang sendirian.

Jokowi yang berada di puncak sendirian bukan sekadar dalam gambar dan video, tapi juga dalam seluruh detak narasi yang sedang ia bangun. Dengan gaya sendirian itu telah melahirkan mitos dan legenda, justru di saat ia masih berkuasa. Di Papua sudah ada Bukit Jokowi. Juga gila hormat dengan gelar Bapak Infrastruktur maupun Bapak Pembangunan Desa. 

Hanya Sukarno dan Soeharto yang memiliki gelar-gelar dan penisbatan semacam itu. Dan itu butuh 20-30 tahun untuk berkuasa. Tapi Jokowi tak ingin waktu selama itu. Dalam pembangunan jalan-jalan tol dan beragam proyek infrastruktur lainnya diklaim sebagai kerja Jokowi. Ada sindroma ingin seperti Sukarno yang melegenda dan menjulang sendirian, tak boleh ada yang lain. Klaim tentang proyek Kali Ciliwung, klaim tentang pembangunan infrastruktur di Papua, dan sebagainya. Benar bahwa Jokowi berbuat banyak untuk infrastruktur, tapi mengabaikan kerja orang lain tentu tak patut dan tak etis. Puncaknya adalah klaim yang segera runtuh dalam waktu singkat tentang pembangunan MRT di DKI Jakarta. Tentu saja itu menggelikan dan memalukan.

Jangankan orang yang besar pasak daripada tiang seperti Jokowi, orang yang benar-benar besar pun jika ingin dimitoskan dan dilegendakan akan membuat bangunan politik yang monolitik. Dengan badannya yang kerempeng ia naik kuda dengan mahkota raja. Ya, mahkota raja ini menjadi ciri khasnya. Ia diberi banyak gelar oleh banyak suku dengan mengenakan mahkota raja. 

Raja di mana pun selalu tunggal, selalu monolitik, karena itu tipis kritik. Maka kita menyaksikan kejamnya rezim Jokowi terhadap suara yang berbeda. Satu per satu kekuatan politik ditekuk: ustad, pengusaha, partai, media, kampus. Dengan cara itu, ia berharap semua seperti yang diskenariokan. Tapi kehidupan sosial dan gerak sejarah ibarat arus air dan alur angin. Ia selalu menemukan jalannya untuk mengalir. Ada celah akan bergemericik untuk mengikis, ada bendungan akan terhimpun untuk kemudian tumpah saat penuh, ada lubang akan menyembur untuk menyentor.

Seperti orang yang sudah bosan dengan foto settingannya, publik pun mulai membuncah dengan politik tiang benderanya yang menjulang sendirian. Era milenial adalah era partisipasi dan merangkul, bukan era baby boomer yang otokratik dan menjadi pahlawan sendirian seperti aksi-aksi panggungnya saat kampanye ini. Kekuasaan bukan milik sendiri, tapi milik masyarakat. Maka perlawanan pun terjadi, terbuka maupun diam-diam. Sihir Jokowi memang sudah pudar.[tsc]

Advertisement

Baca Juga :