Kenali Tanda-Tanda 'Istidraj' Sehingga Kekayaan dan Nikmat Jadi Berkah

Kenali Tanda-Tanda 'Istidraj' Sehingga Kekayaan dan Nikmat Jadi Berkah
Kenali Tanda-Tanda 'Istidraj' Sehingga Kekayaan dan Nikmat Jadi Berkah

Jika ada di antara kita saat ini bergelimang harta dan kemewahan atau meraih takhta dan menduduki jabatan bergengsi, jangan buru-buru mengucapkan alhamdulillah. Hendaknya ia berkaca diri dan intropeksi.

Sebab, apabila semua itu didapat melalui jalan yang buruk--semisal korupsi, suap, atau cara-cara haram lainnya--semua jabatan yang nyaman itu bukanlah nikmat yang patut disyukuri, melainkan merupakan malapetaka (niqmah) yang mesti diwaspadai.

Dalam terminologi syariat Islam, hal ini disebut sebagai istidraj.

Sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Uqbah bin 'Aamir RA. “Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah, sesungguhnya hal itu adalah istidraj.”

Kemudian, Rasulullah membacakan ayat 44 dari surah al-An'aam. Artinya :

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Hadis dan ayat di atas menggariskan sunnatullah dalam kehidupan seorang pendosa. Terkadang Allah SWT membukakan beragam pintu rezeki dan kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan. Lihat lagi redaksi ayat di atas, “Kami (Allah) pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka.”

Itu bisa berbentuk kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, militer, kesehatan, dan kebudayaan. Maka waspadalah terhadap adanya istidraj. Secara bahasa, istidraj. berarti 'mengulur-ulur'.

Selain itu, hati-hati pula dengan imlaa' alias penangguhan dari Allah bagi mereka yang lalai mengingat-Nya. Ingat firman Allah dalam surah al-Qalam ayat 44-45. Artinya :

“Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Alquran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.”

Jadi, ketika ada orang yang tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, gemar bermaksiat, tetapi hidupnya makmur, sejahtera, dan bergelimang kemewahan, ini adalah tanda-tanda istidraj.

Ketika ada kelompok atau organisasi menghidupi kelompok dan organisasinya dengan uang haram, kelihatannya tambah maju usahanya itu; semakin bertambah banyak pengikutnya; pun pengaruhnya kian meluas. Tapi, semua itu melupakannya dari Allah. Maka hati-hati, itulah tanda istidraj.

Ketika seseorang meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zalim dan menghalalkan segala cara, sesungguhnya hal ini juga istidraj.

Demikian pula, kalau ada negara yang kufur kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, membatasi atau melarang berbagai aktivitas dakwah. Negara itu bisa saja secara zahir tampak maju di berbagai aspek kehidupan. Namun, kemajuan itu tak lain istidraj.

Begitu bahayanya istidraj, sampai-sampai Umar bin Khaththab pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan).” (Al Umm, Imam Sayfi'i, IV/157). Maka, waspadalah terhadap istidraj karena ia adalah “kenikmatan” yang membinasakan. Na'udzbillahi min dzalik. [Republika]
Advertisement

Baca Juga :