Menantang Maut, Bergelantungan di Tebing Curam Demi Lobster Mahal

Menantang Maut, Bergelantungan di Tebing Curam Demi Lobster Mahal
Menantang Maut, Bergelantungan di Tebing Curam Demi Lobster Mahal

Sangat mengerikan. Begitulah kegiatan para pencari udang lobster di Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Mereka bergelayutan di tebing yang sangat tinggi dan curam, beralatkan tali untuk turun ke batu karang, di atas kerasnya deburan ombak Samudera Hindia.

Semua itu mereka lakukan demi mencari umpan yang sangat disukai udang lobster. Apa yang dilakukan sejumlah masyarakat asal Desa Plumbungan, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, itu memang sangatlah menantang maut.

Umpan yang mereka cari itu adalah semacam kerang kecil yang menempel di batu karang. Masyarakat sekitar menamainya krungken.

Hewan sejenis kerang ini hidup di batu karang. Ia harus diambil dengan cara dicungkil. Alat pencungkilnya itu terbuat dari jeruji payung bekas atau jari-jari ban sepeda motor.

Purnomo (30), seorang pencari krungken dan udang lobster di sana, mengatakan, rasa ngerinya hilang karena tertutup oleh harapan mendapat hasil yang memuaskan.
Pasalnya, krungken itu merupakan umpan yang paling disukai untuk disantap oleh lobster-lobster berukuran besar.

“Sebenarnya, rasa takut itu muncul saat berada di tebing. Tapi, kalau sudah sampai di bawah, di batu karang, terus melihat banyak krungken, rasa takut itu langsung hilang,” kata Purnomo kepada kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Jumat (10/5/2019).

Dengan modal tak begitu besar, sementara harga jual sangat menggiurkan, kegiatan mencari lobster seolah menjadi pilihan masyarakat sekitar untuk dijadikan sebagai sumber penghasilan andalan.

"Harga lobster paling murah sekitar Rp 250 ribu per kilo. Tapi tergantung jenisnya juga. Kalau yang super bisa sampai Rp 500 ribu per kilo. Sesuailah dengan kengerian saat mencari umpannya," ungkap Purnomo.

Modalnya hanya besi yang dibentuk melingkar dan diberi jaring. Masyarakat di sana menamai alat itu sebagai rendet.

Di tengah lingkaran besi berjaring itulah mereka mengikatkan krungken sebagai umpan untuk memancing kehadiran lobster-lobster besar.

"Paling sedikit kita memasang 10 rendet. Itu pun maksimal hanya bisa mendapatkan lobster sekitar 2 kg. Paling sedikit 2,5 ons. Malah kadang gak dapat sama sekali," kata Purnomo.

Di tempat yang sama, pencari lobster lainnya, Suwanto (25), menceritakan perjuangannya dari mencari umpan hingga menjual lobster yang diperolehnya.

“Modal kita sih tidak terlalu banyak, ya. Dengan Rp 200 ribu saja, sudah lumayan itu. Yang apes, kalau sorenya kita pasang rendet, tahu-tahu malamnya gelombang air laut tidak bersahabat. Habislah rendet kita,” kata Suwanto.

Begitulah kegiatan ekstrem sejumlah masyarakat di Pacitan. Dengan memelihara harapan tingginya harga lobster, tebing setinggi 50 meter pun tak jadi halangan bagi mereka untuk menutupu kebutuhan ekonomi keluarganya [Mc]
Advertisement

Baca Juga :