Musuh Islam yang Tumbang di Bulan Ramadhan : Abu Jahal, Firaun Umat Ini

Musuh Islam yang Tumbang di Bulan Ramadhan : Abu Jahal, Firaun Umat Ini
Musuh Islam yang Tumbang di Bulan Ramadhan : Abu Jahal, Firaun Umat Ini

Bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan. Amat sangat banyak peristiwa bersejarah umat Islam yang terjadi di bulan Ramadhan. Di antara peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan adalah binasanya para pemimpin kekukufuran, mereka yang menimpakan kezaliman yang begitu dahsyat kepada kaum muslimin.

Abu Jahal, Firaun Umat Ini

Firaun umat ini, dirinya adalah provokator utama yang memusuhi Nabi Muhammad SAW. Sikap permusuhannya terhadap Nabi bukan dibangun atas dasar kebodohan. Abu Jahal paham betul bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi.

Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah bahwa sebenarnya Abu Jahal tahu bahwa Nabi Muhammad seorang Nabi. Dalam sebuah riwayat Abu Jahal ditanya oleh keponakannya Miswar bin Makhromah. Dia bertanya, “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhaad berdusta sebelum di mengatakan apa yang dia katakan (risalah)? “

Abu Jahal menjawab, “Wahai keponakanku, demi Allah dahulunya Muhammad adalah seorang yang dianggap terpercaya dan kami tidak pernah mendapatinya berdusta.”

Keponakannya bertanya, “Kalau begitu wahai pamanku, kenapa kalian tidak mengikutinya?”

Abu Jahal, “Wahai keponakanku, Kita (Bani Makhzum) saingan dengan Bani Hasyim dalam hal kemuliaan. Mereka memberi makan, kita juga memberi makan, mereka memberi minum kita juga memberi minum, mereka memberi jaminan keamanan kita juga memberi jaminan keamanan. Hingga kami bersiap di atas tunggangan seperti dua kuda yang berpacu, mereka berkata, ‘Dari kami ada nabi’ dan kapan kita bisa memiliki hal seperti itu (Nabi)?”

Fragmen di atas cukup memberikan alasan kepada kita tentang alasan penentangan Abu Jahal terhadap dakwah nabi Muhammad. Di kisah lain disebutkan bagaimana seorang Abu Jahal berkali-kali mendengarkan bacaan Nabi secara diam-diam di malam hari hanya untuk menikmati keindahan bahasa yang ada di dalam Al-Quran. Keindahan yang tidak mungkin hasil karangan manusia.

Namun fanatisme dan hasad yang dimiliki Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad, membuat dirinya menjelma menjadi musuh dakwah yang paling getol permusuhannya. Dia sendiri yang mengomandoi penyiksaan terhadap para budak bani Makhzum yang masuk Islam. Dan dia menjadi dalang dibalik intimidasi fisik dan non fisik terhadap Rasul dan kaum muslimin secara umum.

Awal Kehancuran Abu Jahal

Ketika mendengar kaum muslimin keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, Abu Jahal bangkit mengumpulkan kekuatan untuk membela kafilah dagang yang sedang dalam ancaman. Siapa yang enggan dan bermalas-malasan untuk bangkit berperang maka Abu Jahal akan menghina dan merendahkan mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus berangkat.

Ketika tersiar kabar bahwa kafilah dagang sudah lepas dari kejaran kaum muslimin, sebagian besar pasukan Quraisy sudah lemah semangatnya untuk perang. Namun Abu Jahal memompa semangat kaum musyrikin dengan berkata, “Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga kita datang ke Badar, menyemblih unta-unta kita dan menikmati nyanyian para biduan agar bangsa Arab tetap segan kepada kita.” Pasukan Quraisy berjalan menuju Badar sesuai arahan Abu Jahal.

Allah telah membutakan hatinya hingga dengan pongahnya dia sendiri berdoa sebelum perang Badar, “Ya Allah, siapa di antara kami yang memutus silaturahmi dan mendatangkan kepada kami hal-hal yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya, maka hancurkanlah dia besok hari..”

Perang Badarpun berkecamuk, kedua pasukan beradu tangguh, satu per satu pentolan Quraisy tumbang. Korban berjatuhan dari kalangan kafir Quraisy. Dan Abu Jahal termasuk salah satu di antara korban perang Badar.

Nyawa Abu Jahal berakhir di tangan kedua bocah yang marah karena mendengar Abu Jahal telah menghina Nabi Muhammad. Diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf, ketika perang Badar berkecamuk datang kepadaku dua orang remaja Anshor.

Salah satu di antara mereka bertanya, “Wahai paman, bisakah engkau tunjukkan kepadaku Abu Jahal? Saya bertanya, “Apa urusan kalian dengannya?” Dia menjawab, “Saya dengar dia telah menghina Rasulullah SAW, Maka demi Allah, tidaklah mataku melihatnya melainkan salah satu di antara kami akan terbunuh duluan.”

Kemudian remaja satunya juga bertanya hal yang sama, ketika sekelebat terlihat Abu Jahal, maka Abdurrahman bin Auf menunjukkan Abu Jahal dan keduanya langsung berlari menuju Abu Jahal dan membunuh Abu Jahal. Dan akhirnya Abu Jahal terbunuh di tangan kedua remaja yang bernama Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muadz bin Afra’.

Bulan Ramadhan menjadi saksi kemenangan kaum muslimin di perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Dan juga menjadi saksi porak-porandanya kafir Quraisy yan ditandai dengan terbunuhnya Abu Jahal di perang Badar. Wallahu a’lamu bissowab [kiblat]
Advertisement

Baca Juga :