Baiknya Jokowi Ganti Jubir Corona, Bahaya Jika Elit Tidak Mampu Memahami Sosiologis Masyarakat


Presiden Joko Widodo diharapkan dapat mengerahkan ahli bahasa untuk mengganti Jurubicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto agar tidak kembali melontarkan pernyataan blunder.

Begitu usul Direktur Eksekutif Center for Social, Political, Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun mengomentari pernyataan Yurianto saat menyinggung si kaya dan si miskin dalam jumpa pers. Adapun penggalan kalimat yang dipermasalahkan adalah saat Yurianto mengatakan “yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”.

Baca Juga : Pidato Jubir Pemerintah Kok Diskriminatif, Memang Si Miskin Selalu Penyakitan?

"Harusnya cukup sampai pada kalimat belajar dan bekerja di rumah dan diam di rumah. Tidak harus menggunakan narasi melindungi,” kata Ubedilah Badrun, Minggu (29/3).

Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini mengatakan bahwa narasi tidak tepat yang disampaikan Achmad Yurianto dapat menimbulkan kekacauan informasi di tengah masyarakat yang dibayangi penyebaran virus corona.

Baca Juga : Viral Si Miskin Tularkan Penyakit, Yuri Contohkan ART Mondar-Mandir Naik Angkot ke Rumah Majikan

"Sebaiknya jurubicara pemerintah ditemani para ahli bahasa, agar narasi yang keluar ke publik tidak multitafsir," jelasnya.

Namun, sambung Ubedilah, jika Presiden Joko Widodo enggan untuk menambah ahli bahasa terhadap Yurianto, maka sebaiknya sang jubir segera diganti.

Baca Juga : Begini Geramnya dr. Tirta Soal Pernyataan Orang Miskin Tularkan Penyakit ke Orang Kaya

"Jika tidak mau, mungkin saatnya dipikirkan untuk bergantian jubirnya. Bahaya negara jika narasi elitnya tidak mampu memahami masyarakat secara sosiologis dalam situasi darurat seperti ini," pungkasnya. (*)
Baca Ini Juga Ya :

Tidak ada komentar untuk "Baiknya Jokowi Ganti Jubir Corona, Bahaya Jika Elit Tidak Mampu Memahami Sosiologis Masyarakat"