Memilukan, Para Dokter di Spanyol Terpaksa Memilih Siapa yang Akan Mati karena Virus Corona


Di ruang gawat darurat di salah satu rumah sakit terbesar di Madrid, Dr Daniel Bernabeu menandatangani sertifikat kematian untuk seorang pasien dan segera berbalik untuk membantu pasien lainnya.

Banyak para pasien yang sekarat berada di ruang tunggu rumah sakit, namun mereka tidak tahu apakah akan mendapat perawatan atau tidak, karena jumlah korban pandemi virus corona di Spanyol, lebih banyak dari petugas kesehatan.

Di rumah sakit La Paz, kompleks 17 gedung yang luas tempat Dr Bernabeu bekerja, sebanyak 240 orang menunggu di ruang gawat darurat untuk dirawat.

Bahkan beberapa fasilitas pemakaman di Madrid, ibu kota Spanyol, telah menghentikan layanannya dan tidak ada ruang tersisa di kamar mayat, sehingga mayat disimpan di gelanggang es.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/3/2020) DR Bernabeu mengatakan bahwa bangsal perawatan sangat penuh dan aturan baru menentukan bahwa pasien yang lebih muda dengan kondisi yang lebih baik akan diberikan kesempatan untuk hidup. Sebaliknya untuk pasien tua akan dibiarkan.

"Kakek itu akan memiliki kesempatan," katanya. "Tapi ada banyak dari mereka, semuanya sekarat pada waktu yang sama."

Jumlah kematian di Spanyol, negara berpenduduk 47 juta orang itu, meningkat lebih cepat daripada di China, tempat virus itu pertama kali muncul.

Pihak berwenang Spanyol melaporkan 738 orang kehilangan nyawa mereka, pada Rabu, 25 Maret. Pada Kamis, 26 Maret, laporan kematian turun menjadi 655.

Secara total jumlah kematian akibat virus corona di Spanyol mencapai 4.089, sudah menyusul China.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, memperingatkan kepada warganya bahwa sebagian besar dari mereka belum pernah mengalami ancaman dengan skala besar seperti saat ini.

"Hanya yang lansia, yang tahu kesulitan Perang Sipil dan akibatnya, dapat mengingat situasi kolektif yang lebih keras dari sekarang," katanya pada 14 Maret ketika ia memberlakukan keadaan darurat dengan pengeras suara di sekitar Madrid.

"Generasi sesudahnya di Spanyol tidak pernah menghadapi sesuatu yang begitu sulit," katanya.

Para dokter yan berada di garis depan memerangi virus corona tidak mengenakan alat pelindung diri yang memadai Mereka hanya mengenakan jubah katun dan masker. Mereka disarankan menjaga jarak 1 meter dari pasien, tetapi itu tidak mungkin.

"Kolega jatuh sakit di sekitar kita," kata Dr Bernabeu. "Aku seorang ahli radiologi, aku seharusnya tidak berada di UGD, namun di sinilah aku berada," ujarnya.

Pada 8 Maret, PM Sanchez meminta warga Spanyol untuk turun ke jalan mendukung hari perempuan internasional. Padahal di Italia Utara sudah ada pembatasan wilayah atau lockdown untuk mencegah virus corona.

Italia, saat itu melaporkan 589 kasus virus corona dan empat orang telah meninggal.

Namun sekitar 120.000 berjubel di jalan-jalan kota Madrid, termasuk beberapa menteri dan istri Sanchez, Begona Gomez.

Pemerintah mengklaim bahwa virus corona itu masih bisa ditahan di Spanyol.

Sejak itu, Gomez dinyatakan positif bersama dengan Menteri Kesetaraan Irene Montero dan Wakil Perdana Menteri Carmen Calvo, yang berusia 62 tahun dan telah dirawat di rumah sakit.

Pada hari berikutnya, jumlah kasus virus corona naik dua kali lipat. Virus corona kemudian merebak di Spanyol, bahkan proses penyebarannya sangat cepat, mematikan dan lepas kendali.

PM Sanches memberlakukan lockdown kurang dari seminggu kemudian.

Pada hari-hari awal prosedur lockdown, banyak warga Spanyol yang tidak menggubris perintah tersebut, karena banyak dari mereka tidak pernah mengalami situasi itu sebelumnya.

Sanchez juga mempersiapkan sistem perawatan kesehatan. Namun rumah sakit kekurangan tempat tidur, ventilator dan peralatan pelindung, dokter khawatir mereka akan kewalahan.

Dalam kasus lainnya, para karyawan panti jompo meninggalkan penghuninya demi nyawa mereka.

Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles, mengatakan pasukan tentara yang dikerahkan untuk mendisinfeksi panti jompo, menemukan beberapa lansia terbaring dengan keadaan melarat dan meninggal di tempat tidur.

Sedangkan Kementerian Kesehatan mengakui bahwa mereka tidak memiliki kapasitas untuk melakukan tes yang cukup untuk melacak penyebaran penularan virus corona atau Covid-19.

Sementara itu, dokter dan perawat berimprovisasi saat pasien datang. Beberapa dari mereka menggunakan plastik sampah di lengan mereka untuk melindungi diri.

Seorang perawat di ruang gawat darurat di sebuah rumah sakit di kota Basque Vitoria, mengatakan pekan lalu bahwa kacamata plastik pelindung memiliki kualitas yang buruk, sehingga petugas medis hampir tidak dapat melihat.

Sekitar 4.000 pekerja medis telah terinfeksi, sekitar 12 persen dari total kasus virus corona di Spanyol. Sedangkan di Italia 8 persen dan China 4 persen.

Serikat perawat di wilayah Basque menyalahkan kekurangan alat atas kematian seorang anggota berusia 52 tahun.

Sekitar 635 orang telah ditangkap di Spanyol karena melanggar ketentuan karantina dan hampir 77.000 orang diberi izin keluar yang telah disetujui oleh polisi dan penjaga sipil.

Pemerintah telah memperoleh bantuan 640.000 alat tes corona. Selama akhir pekan, pihak berwenang telah mengirim bantuan 1,6 juta masker ke seluruh wilayah Spanyol, sehingga total sudah empat juta masker sejak sejak 10 Maret.

Di seluruh negeri, para pejabat mengirim ventilator yang diperlukan untuk menjaga pasien yang paling kritis untuk tetap hidup.

Sementara universitas, perusahaan dan bahkan warga menggunakan printer 3D untuk memproduksi lebih banyak ventilator dan kacamata pelindung.

Tentara telah mendirikan rumah sakit lapangan di pusat konvensi raksasa di pinggiran Madrid. Rumah sakit itu sudah memiliki 1.400 tempat tidur dan akan memiliki 5.000 tambahan ketika selesai pada akhir pekan ini.

Rumah sakit La Paz mengubah ruang tunggu menjadi ruang khusus pasien Covid-19. Namun akses ke perawatan intensif semakin sulit.

"Kami benar-benar kewalahan," kata Dr. Bernabeu.(Okz)
Baca Ini Juga Ya :

Tidak ada komentar untuk "Memilukan, Para Dokter di Spanyol Terpaksa Memilih Siapa yang Akan Mati karena Virus Corona"