Dua Kejadian Beruntun yang Menyerang Ulama, Menag Fachrul Razi Heran

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi tidak berhenti membahas kasus yang menimpa Syekh Ali Jaber.

Sejak kasus terjadi pada 13 September di Lampung, Fachrul Razi masih menyesalkan hingga hari ini.

"Saya tidak habis pikir, dan sekaligus mengecam keras, dua kejadian beruntun 'serangan' terhadap tokoh agama belakangan ini," kata Fachrul Razi dalam pernyataan resminya, Selasa (15/9).

Kejadian pertama pen usukan yang melukai Syekh Ali Jaber di Lampung. Kejadian kedua menewaskan seorang imam ketika salat Subuh di sebuah masjid di Tanjung Rancing, Kayu Agung, Ogan Komering Hilir, Sumatera Selatan.

“Dalam Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang mendapat amanah menyampaikan pesan-pesan ilahi dan kemanusiaan di muka bumi, 'membunuhnya' adalah sebuah kejahatan ganda," ujar Menag.

Dia berharap umat Islam belajar dari kisah Usamah bin Zaid, seorang penglima perang termuda yang pernah 'membunuh' lawannya dalam sebuah perang jihad fi sabilillah.

Usai perang, Usamah bercerita kepada Rasulullah bahwa dalam perang ia berhadapan dengan seorang laki-laki bernama Mirdas bin Nahik.

Saat Usamah berhasil memojokkan dan hendak menghabisinya, Mirdas mengucapkan syahadat. Namun, Usamah tetap saja menusuk dan 'membunuhnya' .

Menag melanjutkan, mendengar cerita sahabatnya itu, Rasul menegur, "Bagaimana bisa engkau 'membunuh' orang yang sudah mengucap kalimat syahadat?" Rasul menegur Usamah yang tetap 'membunuh' laki-laki itu, padahal dia telah mengucapkan syahadat, karena seorang Muslim sesungguhnya tidak berhak menilai isi hati dan kebenaran keislaman seseorang.

Menag menceritakan kembali kisah Usamah bin Zaid itu untuk mengingatkan bahwa agama tidak mengajarkan untuk menyakiti, apalagi 'membunuh' sesama.

“Dalam pesan terakhirnya ketika haji wada’, Rasulullah tegas berpesan bahwa haram bagi setiap insan untuk menumpahkan darah saudaranya. Ini adalah pesan kemanusiaan tertinggi dalam Islam," tegas Menag.

Dalam sejarah, Usamah pun sangat menyesali perbuatannya. Ia lalu berjanji tak akan pernah lagi 'membunuh' orang atau pun musuh yang telah mengucapkan syahadat. Saat terjadi perselisihan antara Khalifah Ali dan Mu'awiyah, Usamah memilih netral bersama sejumlah sahabat lainnya.

"Menumpahkan darah dan 'membunuh' manusia tanpa alasan sangat bertentangan dengan esensi ajaran agama. Islam diyakini sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta,” tuturnya.

Indonesia adalah negara hukum yang konstitusinya dirumuskan dengan melibatkan para pemuka agama. Jangankan seagama, mencederai atau 'membunuh' warga negara beda agama pun adalah sebuah kejahatan hukum.

“Karenanya saya sangat mengecam kejadian 'penyerangan' dan 'pembunuhan' terhadap ulama ini. Semoga ini yang terakhir kalinya terjadi. Saya percaya penegak hukum bisa tuntas mengusut dan menindak pelakunya, sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkas Fachrul. []

Baca Ini Juga Ya :

Tidak ada komentar untuk "Dua Kejadian Beruntun yang Menyerang Ulama, Menag Fachrul Razi Heran"